Sabtu, 22 September 2018

Idung Flat


IDUNG FLAT

               Kadang masih banyak yang merasa minder karena punya bentuk idung yang flat..alias minimalis,hehe..emang sih realnya idung mancung lebih menarik daripada yang flat..(and gue don't care meski punya nose yang minimalis )hahaha..
             Umumnya OI..orang Indonesia memang tidak memiliki idung yang mancung,tapi apakah bentuk pisik yang demikian membuat kita berkurang rasa syukurnya,tentu saja tidak. seperti apapun  bentuk pisik yang kita miliki,itulah anugrah yang sepatutnya kita syukuri. jika karena bentuk pisik membuat kita minder, kurang berani untuk tampil maksimal..ternyata kita tidak hidup pada abad milenial tapi masih terperangkap pada masa penjajahan intelektual. come on,kita hidup pada masa yang lebih hebat dari sekedar tampilan pisik, jika hanya ingin terlihat sempurna...banyak sekali aplikasi kamera jahat yang menyediakan fitur pengubah bahan baku minimalis menjadi tampilan maksimal abis,hahaha...artifisial dan memuakkan. generasi milenial haruslah generasi yang mampu menunjukkan prestasi
               Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membuka peluang sangat lebar  untuk para milenial mengekpresikan diri dengan berbagai kreativitas..berhentilah mengeluhkan kekurangan diri,mulailah berprestasi tanpa merasa rendah diri,biar lah yang flat cuma idung but your life is never flat..mari bersulang dengan bajigur.

Menggugat

    MENGGUGAT   

        Kita selalu merasa bahwa kita ini yang paling benar,paling mengerti,paling faham,paling tahu,paling tempe,paling oncom...heuheu... Faktanya kita ini yang paling tidak mengerti apa-apa,tapi merasa tahu segalanya.
            Ada yang kita tahu dan orang lain pun tahu,ada yang kita tahu dan orang lain tidak tahu,ada yang kita tidak tahu tapi orang lain tahu,dan ada yang kita tidak tahu dan orang lain pun tidak tahu (Johari Window). Kita tidak harus tahu segalanya . Kita hanya butuh mau memahami segalanya,dengan keterbatasan yang kita miliki. Kita sering menggugat orang lain karena kita merasa benar,faham,ahli,mengerti tanpa mau melihat sudut pandang yang lain,yang mungkin lebih rasional.
             Ketidaktahuan memang harus dilawan dengan terus menggali pengetahuan dan ilmu pengetahuan,namun setelah pun kita tahu,tidaklah elok kita selalu berusaha menggugat orang lain hanya demi syahwat pengetahuan yang hanya bertujuan pengakuan dan pembenaran atas semua argumen yang kita asyik perdebatkan,sementara manfaatnya  mungkin hanya nol saja. Kita tidak harus menjadi penggugat segala hal,kita bukan tuan segala tahu..kita hanya tahu bulat yang digoreng dadakan,heuheuheu...selamat menikmati pahitnya kopi tanpa gula.